Langsung ke konten utama

Perilaku Jujur

Assalamualaikum , ini dia tugas membuat makalah "Hidup Nyaman Dengan Perilaku Jujur" yang diberikan oleh guru agama baru saya yaitu Pak Budimus.
Semoga Bermanfaat yaa :) Jangan lupa cantumkan sumbernya.







Makalah
Hidup Nyaman Dengan Perilaku Jujur


Di Susun Oleh :
Putri Pratiwi






SMKN 1 Pekanbaru
Teknik Komputer Dan Jaringan



Kata Pengantar
       Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam menempuh jalan yang benar dan berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Hidup Nyaman dengan Perilaku Jujur”.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Rasulillah Muhammad SAW pemberi uswah (teladan) dan bimbingan tentang perlunya kita memiliki sifat jujur sekaligus mempraktekkannya dalam aktifitas kehidupan kita sehari-hari. Terselesaikannya makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak, oleh karenanya dalam lembar Pengantar ini, izinkan kami menyampaikan terima kasih banyak kepada;
1. Guru pembimbing mapel Agama Islam yang senantiasa sabar dalam membina dan mengarahkan kami.
2. Semua anggota kelompok kami yang telah menuangkan pikiran dan menunggu dalam penyusunan makalah ini.
3. Semua pihak terkait yang telah ikut andil membantu kami dalam penyelesaian makalah ini.
Akhirnya kritik saran dari pembaca, dengan senang hati siap kami terima, semoga usaha penulisan makalah ini tidak sia-sia dan semoga Alloh SWT memberikan manfaat dan ridlaNya kepada kita semua. Amin.

Wassalam.
Tim Penyusun










Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1 Pengertian Jujur
BAB 2 Keutamaan Jujur
BAB 3 Macam-Macam Kejujuran
BAB 4 Pengaruh Jujur Dan Bohong dalam Kehidupan
Penutup
Daftar Pustaka












Bab 1 : PENGERTIAN JUJUR
                 Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sebuah kebenaran atau bisa dikatakan sebuah pengakuan akan sesuatu yang benar. Semisal apabila ada seseorang  yang  menceritakan informasi tentang  gambaran  suatu kejadian atau peristiwa kepada orang lain tanpa ada “perubahan” (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur.
         Menurut al-Raghib, jumhur ulama’ berkata : “kebenaran atau kejujuran adalah bila sesuai dengan realitas, sedangkan kedustaan adalah ketika berbeda dengan realitas”. Ulama’ lain berkata : “kebenaran adalah apa yang sesuai dengan keyakinan, sedangkan kedustaan adalah apa yang berbeda dengan keyakinan”. Kejujuran (kebenaran) ialah nilai dari keutamaan yang utama-utama dan pusat akhlak, dimana dengan kejujuran maka suatu bangsa menjadi teratur, segala urusan menjadi tertib dan perjalananya adalah perjalanan yang mulia. Kejujuran akan mengangkat harkat pelakunya di tengah manusia, maka ia menjadi orang terpercaya, pembicaraanya disukai, ia dicintai orang-orang, ucapanya diperhitungkan oleh para penguasa, dan persaksianya diterima di pengadilan. Dengan ini Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk berlaku jujur, sebagaimana juga Al-Qur’an memerintahkan kepada kita dalam firmanya Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kalian dengan orang-orang yang benar atau jujur”. (9/Al-Taubah 119.)
            Kebenaran (kejujuran) berada  pada ucapan, akidah dan perbuatan. Kebenaran dalam ucapan adalah ketika sinergi dengan isi hati atau realitas. Kebenaran akan membawa anda berkeberanian bicara dan berkehati-hatian sebelumnya dan tidak mengatakan tanpa dasar pengetahuan. Ketika membicarakan tentang niatan maka jadikanlah pembicaraan itu sejalan dengan niatan kita. Dan jika berjanji maka jadikanlah niatan memenuhinya sebagai kawan setia kemauan. Janganlah meminta pemahaman tentang sesuatu ketika anda sudah mengetahui dengan maksud membujuk orang-orang yang mendengarkan.
            
Bab 2 : Keutamaan Jujur
              Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi,
“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”
Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.
Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.
Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,
“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”
                 Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.
                Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.
                 Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya -dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruf), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.
Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah: 119)
“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. al-Maidah: 119)
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)
“Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)
Nabi bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.”








Bab 3 : MACAM-MACAM KEJUJURAN
Penulis kitab al-Manazil mengatakan bahwa jujur adalah istilah untuk mengungkapkan hakikat sesuatu yang berwujud dan kejadian yang sesuai dengan kenyataannya. Makna lain kejujuran adalah tercapainya sesuatu dengan sempurna, berikut kekuatan dan seluruh elemennya.
1. Jujur dalam berbicara.
            Jujur dalam perkataan adalah bentuk kejmasyhur.Setiap hamba berkewajiban menjaga lisannya , yakni berbicara jujur dan dianjurkan menghindari kata-kata sindiran karena hal itu sepadan dengan kebohongan,  kecuali jika sangat dibutuhkan dan demi kemaslahatan pada saat-saat tertentu.
            Ketika hendak pergi berperang, Rasulullah saw. selalu menyembunyikan maksudnya agar tidak terdengar oleh pihak musuh karena dikhawatirkan mereka akan siaga untuk memerangi beliau. Rasulullah saw. Bersabda: "Tidaklah (dikatakan) pendusta orang yang mendamaikan manusia, berkata baik, dan menyampaikan (berita) baik." (HR Bukhari dan Muslim)
            Seorang hamba wajib jujur ketika dia bermunajat kepada Tuhannya. Misalkan jika dia berikrar, "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi," tetapi ternyata hatinya tidak pernah mengingat Allah swt. dan sibuk dengan kepentingan dunia. Itu berarti dia telah berbohong. Ini adalah perkara yang berkaitan dengan niat yang tulus adalah fondasi setiap amal.
              Setiap muslim dituntut untuk selalu berkata jujur, walau pun bercanda. Rasulullah saw. Bersabda: "Aku akan menjamin rumah dipinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walau pun (dalam posisi) benar, dan (aku akan menjamin) rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan kata dusta dalam keadaan bercanda, dan (aku akan menjamin) rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang berbudi pekerti tinggi bagi orang yang berbudi pekerti mulia." (HR Abu Dawud; hadits hasan).
               Setiap muslim wajib jujur ketika berjual beli. Dengan kata lain, dia harus berkata jujur, tidak menyuap dan tidak menipu. Tersebarnya Islam di seluruh belahan negara Afrika, bahkan di seluruh pelosok dunia, disebabkan oleh kejujuran orang-orang muslim dalam praktik jual-beli mereka. Orang-orang non muslim takjub dengan kejujuran dan toleransi yang ada pada tubuh umat Islam. Itulah yang menyebabkan mereka berbondong-bondong memeluk Islam. Kini, umat Islam. Kini umat Islam sangat membutuhkan etika dan transaksi yang telah diatur oleh Islam demi mewujudkan kebahagiaan seluruh umat manusia.Kekasih Allah swt. Ibrahim a.s., telah memohon Allah swt. agar menganugerahinya lisan yang jujur. Sebagaimana firman-Nya :"Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (asy-Syu'ara[26]:84)
               Allah swt  pun memuliakannya sebagaimana diceritakandi dalam Al-Qur'an : "Maka ketika dia (Ibrahim) sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya'acub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia." (Maryam [19]:49-50
               Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah swt. dengan doa tadi agar bisa mendapatkan keampunan-Nya dan perantara yang dapat membantu seorang hamba untuk beramal saleh. Allah swt. berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia  menang dengan kemenangan yang agung." al-Ahzab [33]:70-71). Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa kitab tafsir, maksud dari 'perkataan yang benar' adalah perkataan yang jujur atau kalimat la ilaha illallah.

2. Jujur dalam niat dan kehendak.
             Kejujuran  bergantung pada keikhlasan seseorang. Jika amalnya tidak murni untuk Allah swt., tetapi demi kepentingan nafsunya berarti dia tidak jujur dalam berniat, bahkan bisa dikatakan telah berbohong, seperti kisah tiga orang yang terdapat di dalam hadits berikut ini.
           Rasulullah saw. Bersabda :"Sesungguhnya orang yang pertama kali akan dimasukkan ke neraka adalah orang yang mati syahid. (pada hari Kiamat kelak), dia akan dihadapakan (kepada Allah untuk dihisab), lalu nikmat-nikmat (yang telah diberikan kepadanya ketika di dunia) akan diperlihatkan kepadanya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?' Orang terebut menjawab, 'Hamba berperang di jalan-Mu (untuk menegakkan agama-Mu) hingga hamba gugur sebagai syahid." Allah berfirman, 'Kamu bohong, sebenarnya tujuan kamu berperang agar kamu dikatakan sebagai pemberani (pahlawan) dan kamu sudah mendapat gelar itu.' Kemudian Allah memerintahkan (malaikat-Nya) untuk memasukkannya (ke neraka). Kemudian diseretlah wajahnya (kepalanya) dan dilemparkan ke dalam api neraka. Berikutnya, seorang laki-laki penuntut ilmu, lalu dia mengajarkan ilmunya kepada orang lain, dan dia pun gemar membaca Al-Quran. (Pada hari Kiamat kelak, dia akan dihadapkan (kepada Allah untuk dihisab), lalu nikmat-nikmat (yang telah diberikan kepadanya ketika di dunia) akan diperlihatkan kepadanya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya kepadanya, "Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?' Orang tersebut menjawab , '(Hamba gunakan nikmat tersebut) untuk menuntut ilmu, lalu hamba mengajarkan ilmu (yang hamba peroleh kepada orang lain), dan hamba juga gemar membaca Al-Qu'ran ikhlas kerana engkau.' Allah berfirman, 'Kamu bohong, sebenarnya tujuanmu menuntut ilmu agar kamu dikatakan orang alim, dan tujuanmu membaca Al-Qu'ran agar kamu dikatakan qari, dan kamu sudah mendapatkan (gelar itu).' Kemudian Allah memerintahkan (malaikat-Nya) untuk memasukkannya ( ke neraka), lalu diseretlah wajahnya (kepalanya) dan dilemparkanlah dia ke dalam api neraka. Selanjutnya, seorang laki-laki yang dilapang-kan rezekinya oleh Allah dan Ia memberinya semua jenisharta. (Pada hari Kiamat kelak), dia akan dihadapkan (kepada Allah untuk dihisab), lalu nikmat-nikmat (yang telah diberikan kepadanya ketika di dunia) akan diperlihatkan kepadanya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?' Orang tersebut menjawab, 'Ham-ba tidak pernah meninggalkan satu jalan (jihad) pun yang Tuhan kehendaki agar (hamba) berinfak di jalantersebut, kecuali hamba berinfak dengan ikhlas karena engkau. Allah befirman kepadanya, 'Kamu bohong, sebenarnya tujuan kamu berinfak agar kamu disebut sebagai dermawan, dan kamu sudah mendapatkan gelar itu.' Kemudian Allah memerintahkan (malaikat-Nya) untuk memasukkan (ke neraka) lalu diseretlah wajahnya (kepalanya) dan dilemparkan dia ke dalam api neraja." (HR Muslim)

3.  Jujur dalam berkeinginan dan dalam meralisaikannya.
            Keinginan atau tekad yang dimaksudkan adalah seperti perkataan seseorang, "Jika Allah memberiku harta, akau akan menginfakkan semuanya." Keinginan seperti ini ada kalanya benar-benar jujur dan da kalanya pula masih diselimuti kebimbangan. Kejujuran dalam merialisasikan keinginan, seperti apabila seseorang bertekad dengan jujur untuk bersedekah. Tekas tersebut bisa terlaksana bisa juga tidak. Penyebab tidak terealisainya tekad tersebut bisa saja karena dia memiliki kebuntuan yang mendesak, tekadnya hilang, atau lebih mengedepankan kepentingan nafsunya. Berkaitan dengan hal ini Allah swt. Berfirman : "Di anatara orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di anatar me yang gugur, dan di ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak sedikit pun tidak mngubah (janjinya)." (al-Ahzab [33]: 23)
              Berkaitan dengan sifat jujur dalam menepati janji, Allah swt. memuji Nabi Ismail a.s. dan memerintahkan kita agar meneladaninya. Sebagaimana firman-Nya:"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur'an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi." (Maryam [19]:54)


4. Jujur dalam bertindak
              Kejujuran dalam bertindak berarti tidak ada perbedaan antara niat dan perbuatan. Jujur dalam hal ini juga bisa berarti tidak berpura-pura khusyu dalam beramal sedangkan hatinya tidaklah demikian.
              Salah seorang sahabat pernah berkata, "Aku berlindung kepda Allah swt. dari khusyu munafik." Para sahabat yang lain bertanya, "Apa yang kamu maksud dengan khusyu yang munafik?' Sahabat itu menjawab, "Itu adalah jika kalian melihat gerakan tubuh khusyu, padahal tidak demikian dengan hatinya." Muthraf berkata, "Apabila niat dan amalan seorang hamba tidak berbeda, Allah swt. akan berfirman, 'Inilah hamba-Ku yang sebenarnya.' Kejujuran adalah dasar keimanan dan syarat diterima amal dan ketaatan. Allah swt. menjanjikan pahala dan kedudukan khusus bagi orang-orang yang senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah dasar keimanan dan syarat diterimanya amal dan ketaatan Allah swt. menjanjikan pahala dan kedudukan khusus bagi oprang-orang yang senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah kunci setiap kebaikan, pembeda antara orang yang beriman dan orang munafik, serta pintu dan jalan untuk sampai ke derajat orang-orang yang jujur, yaitu derajat yang paling bagi makhluk setelah derajat para nabi dan rasul."

1.    Jujur dalam hal keagamaan.
        Jujur dalam agama adalah derajat kejujuran tertinggi, seperti jujur dalam rasa takut kepada Allah swt., mengharap ridha-Nya, zuhud, rela dengan pemberi-Nya, cinta dan tawakal. Semua perkara tadi memiliki fondasi yang menjadi tolok ukur kejujuran seseorang dalam menyikapinya. kejujuran juga memiliki tujuan dan hakikat. Orang yang jujur adalah mereka yang mampu mencapai hakikat semua perkara tadi dan mampu mengalahkan keinginan nafsunya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah swt. di dalam firman-Nya: "Kebajikan itu bukanlah menghdapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, nak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang  yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."(al-Baqarah [2]:177)







Bab 4 : PENGARUH JUJUR DAN BOHONG DALAM KEHIDUPAN
       Nilai-nilai kejujuran memang cukup sulit untuk diterapkan pada setiap orang bila hatinya sudah dipengaruhi berbagai kepentingan dan keuntungan. Orang yang sering berteriak-teriak tentang kejujuran saja ternyata banyak yang berbulu musang. lidahnya bicara nilai-nilai kejujuran, namun pada saat lain batinnya bicara kemunafikan. Lidah dan hati justru mudah mereka permainkan. Dan memang dalam berbagai kehidupan sekitar saja mencari hal-hal jujur saja boleh jadi sangat sulit, apalagi pada masa sekarang ini, mencari orang jujur, ibarat mencari jarum ditumpukan jerami, sulit sekali!!!. Kejujuran saat ini sepertinya merupakan harga yang sangat mahal dan langka untuk diketemui. Cobalah lihat berapa banyak orang yang jujur dinegeri kita ini. Terjadinya krisis yang berkepanjangan di negeri kita salah satu penyebabnya adalah kita sering meninggalkan hal-hal yang jujur. Dengan ketidakjujuran mereka bangsa ini jadi terpuruk, dengan ketidakjujuran mereka orang jadi tidak menghargai hukum, Dengan ketidakjujuran mereka akhirnya moral tergadaikan. Yang paling mengerikan adalah bahwa ketidak jujuran bangsa ini sudah menjadi sebuah kesepakatan baik dalam bentuk lembaga maupun individual.
        "Katakan yang benar walau terasa pahit", saat ini sangat sulit untuk dijalankan, kita semua terbelenggu dengan sebuah keraguan dan ketakutan dengan ungkapan seperti itu, ketika kita akan mengungkapkan sebuah kejujuran kita pasti berfikir akan adanya sebuah resiko. Padahal bagi orang yang sering menerapkan prinsip-prinsip kejujuran, biasanya mereka terlihat tenang dan damai, mereka tidak berfikir akan resiko karena mereka tahu bahwa mereka benar, mereka juga tahu bahwa prinsip seperti ini justru merupakan ajaran hidup yang dipuji oleh Tuhan, buat mereka kejujuran harus ada, mereka merasa bahwa mereka tidak ada beban sama sekali dalam hidup ini. Hidup dijalani apa adanya, mengalir seperti air. Orang-orang yang terbiasa jujur justru banyak yang segan dengan prilakunya, boleh jadi saat dia hidup tidak dipandang, namun setelah ia wafat orang akan tersu terkenang akan kebaikan dirinya karena ia terkenal dengan kejujurannya.
        Pengaruh kejujuran bagi orang yang menjalaninya dengan baik sangatlah luar biasa. Orang yang terbiasa hidup jujur ketika akan melakukan kebohongan tentu akan berfikir akibat dari kebohongan itu, minimal antara dirinya dengan manusia, lihatlah contoh negara-negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, semua maju dengan pesat dalam segala bidang, padahal negara-negara tersebut ada yang tidak beragama, kenapa mereka maju? karena mereka telah mengedepankan nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya, hanya mungkin yang kurang pada diri mereka hubungan dirinya dengan Tuhan. Yakinlah bahwa dengan kita menjungjung tinggi nilai kejujuran hidup kita tidak akan pernah gelisah, apalagi kejujuran itu sangat diagungkan oleh Tuhan. Ingat para nabi diturunkan dimuka bumi ini semua diperintahkan oleh Tuhan untuk jujur dalam mengungkapkan kebenaran, mereka dilarang untuk takut dalam mengungkapkan kebenaran, karena takut adalah merupakan sikap yang buruk dalam menjunjung tinggi sebuah kejujuran.

















Daftar Pustaka
Makarimul-Akhlaq, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.
Mukhtashar Minhajul-Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.
Mukhtarat min Al-Khutab Al-Mimbariah, karya Syaikh Shalih ibn Fauzan ; cet. Ke – 1, Jam’iayah Ihya’ At-Turats Al-Islamy.
Syarh Riyadhus As-Shalihin, karya Syaikh Mahammad ibn Shalih Al-Utsaimin ; cet – 1 ; Dar- Wathan, Riyadh, KSA.
http://hazimthamrin.blogspot.com/
yayi-haidar-aqua


Komentar

Tommy kuncoro mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Postingan populer dari blog ini

Story Of MERDEKA

Selamat hari kemerdekaan negara indonesia yang ke 70th Indonesiaku tercinta  Puisi untuk Indonesia : Indonesiaku tercinta emas dan perak berlimpah ruah tak setitikpun kau sisahkan untuk mereka yang sengsara kekayaan hutanmu sangat melimpah tak sebatang kayupun kau berikan untuk bangun sekolah mereka yang putus sekolah tak punya biaya ikan, udang, dan terumbu karang yang indah sama sekali tak bisa hiasi perut-perut lapar peminta-minta (boleh lanjutin dicomment    ) Sudah 70th merdeka slogan/ mottonya "gerakan nasional 70th indonesia merdeka -Ayo kerja!- " yaelah kemana aja nesia nesia (sapaan akrab untuk indonesia) yang lain udah pergi ke bulan yang lain udah buat robot yang lain udah berkarya! Indonesia masih Ayo kerja! jadi buruh bukan jadi pesuruh :v , backsound: "ganti dong ganti dong! jadi ayo berkarya!" yaa boleh sii slogannya "Ayo kerja!" tapi jangan pasang poto soekarno sama hatta dong! pasang poto petani sama buruh diindonesi...

Contoh Laporan Hasil Analisis Teks Eksplanasi - Awan Cumulonimbus

        Contoh Laporan Hasil Analisis Teks Eksplanasi- Awan Cumulonimbus - Beberapa hari yang lalu Indonesia sempat digemparkan oleh berita jatuhnya pesawat QZ8501 , setelah ditinjau lebih lanjut salah satu penyebabnya adalah awan berbahaya yang disebut dengan awan cumulonimbus, menurut pengetahuan para ahli awan cumulonimbus ini dapat membahayakan pesawat karna memiliki muatan listrik yang sangat besar yang akan merusak bagdan pesawat.      Karna hal itu, berhubungan dengan tugas bahasa Indonesia yaitu membuat Contoh laporan hasil analisis teks eksplanasi saya memiliki ide untuk mengambil ide ini. Melalui searching sana-sini tentang jatuhnya pesawat QZ8501 berikut dengan penyebabnya maka rampunglah tugas bahasa indonesia saya dengan judul Laporan Hasil Analisis teks Eksplanasi - Awan Cumulonimbus. Jika teman-teman ingin melihatnya, silahkan melihatnya  disini.  Lihat juga  Contoh Makalah Novell Netware     Lalu jangan...

Jawaban Soal Pemrograman Dasar Lanjutan 11-20

Ini lanjutan dari Jawaban Soal Pemrograman Dasar Lanjutan yang 1-10 jangan lupa tempelin komentarmu diblogku okeee! 11.Aturan penulisan algoritma yang benar adalah sebagai berikut ... a.Judul, Deskripsi, Deklarasi b.Deskripsi, judul, deklarasi c.judul,deklarasi,deskripsi d.deklarasi, deskripsi, judul e.deklarasi judul , deskripsi 12.Perintah writeln dalam pascal berfungsi untuk... a.membaca karakter b.menghitung karakter c.menjumlahkan karakter d.menampilkan informasi kelayar d.memberi warna pada text\ 13.Operator +, -, /, mod, * , termasuk dalam kategori operator ? a.operator penugasan b.operator logika c.operator string d.operator aritmatika e.operator pengulangan 14.operator = (sama dengan), termasuk dalam kategori operator ? a.operator penugasan b.operator logika c.operator string d.operator aritmatika e.operator pengulangan 15.Perintah yang berguna untuk mendefinisikan suatu type yang akan dimasukkan ke dalam suatu variabel adalah... a.type b.c...