Rintik hujan perlahan jatuh membasahi kota berkabutku. Asap akibat kebakaran hutan itu hampir lenyap. Namun aku enggan melepaskan masker yang menutup separuh wajahku. Jilbabku telah basah karna berjalan dibawah rintik hujan yang sekarang menjadi sangat deras. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai dirumah. Kepalaku sedikit berdenyut pusing dengan langkah cepat dan terburu-buru aku langsung menyebrang jalan, tanpa sadar mobil itu juga melaju cepat kearahku. kecelakaan itu menggoreskan luka di tangan , darah segar keluar dari hidungku yang segera dibersihkan oleh hujan yang belum juga reda, dan kini aku harus rela kehilangan sebelah kakiku.
dalam dekap rahmat-Mu ku bersyukur
dalam kasih-Mu ku sadari Kaulah penolongku
Mungkin itulah yang akan terjadi padaku bila pemuda itu terlambat sedetik saja menarik tanganku. Pemuda yang tidak kukenal namanya dan tak pernah kulihat wajahnya dengan nada marah sekaligus khawatir "Astagfirullah mbk, kalau nyebrang itu hati-hati, rumah mbk dimana mau saya antarkan?" Sedikit terkejut aku menjawab "Engga perlu mas, rumah saya sudah dekat dari sini, maaf, terimah kasih sudah menolong saya" Ia menjawab "iya sama sama yasudah, saya bantu menyebrang" bicaranya tiba-tiba mereda.
Setelah sampai disebrang jalan, mataku tak henti mengikuti langkahnya yang kemudian menyebrang lagi menghampiri motornya yang tergeletak dipinggir jalan. Mungkin saja dia menjatuhkannya begitu melihat mobil melaju ingin menabrakku. ahhh ya sudahlah pikirku kemudian melangkah berlalu.
dalam ikhlasku bersujud diatas sajadah penghambaan hanya pada-Mu
Keheningan malam ini mengingatkanku , melintas semua kejadian yang terjadi pada hari ini. Mata dan hatiku iba melihat gelandangan yang usianya mungkin seusia Ayah dan Ibuku, kalau saja itu ayah dan ibuku aku tak tega menatapnya lekat-lekat. Alhamdulillah aku bersyukur masih dalam dekap rahmat-Mu. sampai akhirnya terlintas dipikiranku seorang pemuda yang menolongku, Aku tak banyak berpikir tentangnya, Aku hanya berpikir Allah belum memintaku pulang dalam peluk hangat-Nya. Aku masih terus diminta untuk berjalan dipermukaan bumi ini dengan niat hati yang ikhlas dan amal shalih yang lebih banyak lagi untuk bekal dikampung akhirat. Tapi tetap saja kenapa aku tak bertanya namanya. Pikiran itu kemudian menghilang terkalahkan oleh lantunan lembut murottal al-qur'an dari Fatih Seferegic. Fabiayyi 'ala irabbi kumma tukazziban. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Dengan semua nikmatnya rasanya bodoh bila Aku harus terus mengeluh dengan hubungan ayah dan ibuku, mengeluh dengan uang semesterku, mengeluh tentang tema-temanku yang tak sejalan. Ayat ini membuatku terus kuat dan merubah keluh kesahku menjadi doa dan usaha tanpa henti. Hingga mataku terpejam, dekap rahmat-Mu selalu hangatkan jiwaku dengan iman.

Komentar