Lagi-lagi dan lagi aku harus tetap bangun pagi dan sekarang masih pagi-pagi buta sekali, capek sih apalagi baru beberapa menit tadi aku pergi untuk memejamkan mata(tidur) karna aku harus mengerjakan tugasku yang menumpuk, maklumlah serangkai peraturan kurikulum 2013 yang serba wah itu, bila tidak segera di kerjakan tugas lain akan mengantri bagaikan antrian sembako.
Panggil saja mi , aku pasti langsung menoleh ke si pemanggil. Asalkan kamu jangan panggil aku mi tiauw, mi goreng, mi tek tek, atau bermacam-macam nama mie lainnya. Nama lengkapku Mitha Raina. Namaku yang aneh tidak sesuai dengan tingkahku yang biasa-biasa saja. Suka cuek , tapi lebih sering jutek , tapi tenang saja aku nggak bau ketek kok. Aku pernah bertanya ke mama , apa arti dari nama ku ma? Mamaku hanya menjawab tanya papamu sana. Dan aku bertanya pada papa , apa arti namaku pa ? Papaku menjawab tanya mama sana. Aku jadi bingung , sebenarnya aku ini anak siapa, papa atau mama? Atau tidak keduanya? Padahal wajahku mengadopsi papa dan mama.
Saat teman-teman ku bertanya mi apa arti namamu? Aku hanya bilang aku dalam hujan , Raina Rain artinya hujan. Dan namaku artinya aku mitha dalam hujan. Karna akupun juga sangat suka bila rintik hujan turun di susul dengan sejuknya hawa dingin. Aku lebih sering main bola , main sepeda, main basket atau main lainnya yang membuatku sedikit agak berbeda , macho maksudnya. Ketimbang main masak-masakan atau boneka-bonekaan, nggak aku banget itu mah. Bisa dibilang aku sedikit agak tomboy , memang rambutku yang panjang dan hitam berkilau bak pemain iklan shampo gak bisa menghilangkan sedikit kefeminimanku tapi aku bersyukur hanya SEDIKIT. Inilah sepenggal kisah dalam kehidupanku yang takkan pernah kulupa.
On The Way, diatas angkutan kota yang kunaiki atau biasa disebut angkot, mataku menelusuri setiap bangunan yang telah kulalui dan akhirnya sampailah dipinggir jalan , aku harus beranjak menggulung jalan ke sekolah tidak jauh sih namun cukup membuatku berkeringat.
Sesampai digerbang sekolah telah menanti guru teladan yang sangat overprotektif terhadap peraturan sebut saja namanya pak johan , setiap yang melewatinya harus bersalaman dan berpakaian lengkap, saat ini tibalah giliranku yang ditanyai “Dasinya mana?” Aku menjawab “ditas pak” “Pakai disitu dulu baru masuk”katanya dengan tegas. Lalu akupun menyamping dan menggeledah tasku sendiri hampir lama aku menggeledah namun tak kutemui dasiku aku panic badai. Bagaimana ini? Dan aku bilang padanya dengan nada datar “dasinya tertinggal pak” “dah disitu dulu”. Sampai bel masuk berbunyi aku menunggu dan akhirnya datanglah pak johan dengan ember, pel dan seperangkat alat bersih-bersih dibayar tuuuunai. Aku berfikir sepertinya hari senin adalah hari sialku.
Resmilah hukumanku dengan beberapa siswa lainnya. Kami yang dikenai hukuman ini harus membersihkan gudang sekolah yang terkenal keangkerannya disaentero pergosipan dan pergunjingan anak-anak sekolah kami. Akhirnya dengan semangat tinggi dihati untuk menolak hukuman dari pak johan tersebut aku angkat bicara. “Saya gak mau pak, ntar saya digentayangi sama penghuni gudang itu, pokoknya saya gak terima hukumannya”tegasku kepada pak Johan. Lalu pak Johan menimpali penolakanku dengan sadisnya “Kamu pilih bersih-bersih gudang atau pulang sekarang”bentaknya sambil mengacungkan tangannya keluar pagar.
Bukti bahwa Dia mengusir seorang anak muridnya yang paling imut dan ngangenin.(gak boleh sirik yah). Aku bingung setengah mampus, padahal hari ini adalah hari ujian mid semester untuk semua pelajaran.
Akankah Mitha Raina menuruti hukuman gurunya atau memilih pulang, tunggu part 2 nya.
Komentar