Dalam apresiasi sastra dijelaskan bahwa sastra itu memuat "ajaran". Dalam iklan- komunikasi massa juga memuat "ajaran" untuk menggunakan produk-produk yang diiklankan. (Menjaring banyak konsumen)
Baik sastra maupun iklan secara tidak langsung mempengaruhi alam bawah sadar untuk kita memanipulasikannya menjadi karakter diri.
Mengutip ungkapan yang lumayan Mahsyur dikalangan penikmat akal sehat. Ialah Joseph Goebbels, sering dijuluki Bapak Propaganda Modern karena pemikiran yang mengatakan ungkapankanlah kebohongan berulangkali maka akan jadi kebenaran yang dipercayai.
Ternyata tak jauh berbeda dengan Adolf Hitler pemimpin NAZI.
"Pengulangan membuat sesuatu menjadi nyata. Adolf Hitler menulis hearts otobiografinya bahwa JIKA Kebohongan diulangi Beroperasi Terus-menerus, Maka Pikiran Manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterima sebagai kebenaran. Pengulangan adalah metode hipnosis. Apa yang diulangi akan terus-menerus terukir pada dirimu. Inilah yang menyebabkan ilusi dalam hidup."
Tidak percayakah dengan teori ini?
Sekarang mari kita kaji satu iklan pasta gigi. Memang bukan soal kebohongan atau kebenaran.
Setiap iklan pasta gigi mengungkapkan dalam kandungannya "Flouride". Tanpa tau kebenaran tentang "Flouride" kita anggap "flouride" memang lumrah digunakan dan kita nyaman-nyaman saja konsumtif mengunakannya. Padahal..
Satu lagi iklan yang berbunyi begini "Truk aja gandengan masak lu enggak" Iklan ini terus diputar diulang-ulang, ditampilkan dengan metode hypnosis. Sehingga pada akhirnya umum dimasyarakat kalau predikat jomblo itu begitu nista untuk disandang. Akhirnya proses bully-membully terjadilah.. dengan satu pertanyaan enteng namun nyelekit "Kapan Nikah bro?" (Maaf ini lebay)
Dalam dunia propaganda modern, hal itu menjadi jalan pintas bagi keberlangsungan manuver politik. Melalui kata "blusukan", "Sederhana" dan "merakyat". yang selalu diulang-ulang oleh media mainstream. Lalu mempengaruhi cara pandang hingga pilihan masyarakat dibilik suara.
Dalam dunia periklanan disebut metode hypnosis, hal itu dimanfaatkan secara profesional untuk mempengaruhi cara pandang dan juga cara bersikap secara tidak sadar. Hal itu menyebabkan budaya konsumtif merajalela bak jamur di musim tumbuhnya. Tidak otomatis bernilai negatif. Kita bisa memandangnya dalam segi positif "Positif terhadap dunia industri yang memproduksinya" Menjadikan banyak lapangan kerja, tidak hanya dalam produknya, packaging, design grafis, advertising dan lain-lain.
Dalam kajian keislaman kita mengenalnya dengan istilah "Ghawzul Fikr" atau perang pemikiran. Pada perspektifnya berbeda, namun tujuannya sama untuk mempengaruhi cara pandang dan cara bersikap. Ghawzul Fikr ini adalah perang dengan pendekatan yang halus (soft approach) namun amat sangat kejam.. dapat mempengaruhi generasi muda kita ke arah negatif "tanpa disadarinya".
Contohnya hukum pacaran dalam Islam haram. Namun menjadi hal yang lumrah bahkan Mahsyur karena dipertontonkan dalam tayangan-tayangan televisi kita. Maka wajar, bila di masa-masa sekarang ini kita jumpai fenomena-fenomena baru anak SD sudah panggilannya ayah bunda. Malah ada yang pergaulannya seperti orang dewasa. Itu terjadi bukan tanpa sebab. Melainkan adanya "ajaran" yang dikonsumsi secara tidak sadar. Tontonan yang jadi tuntunan. Korban iklan gak ketulungan. Demi challenge walaupun membahayakan nyawa dilakukan.
Opini umum ditengah-tengah kita tergantung dari manusia-manusia yang bergelut dalam mendistribusikan banyak informasi dan wacana ditengah ruang publik.
Seberapa banyak Anda mendapati kata-kata "Riba haram dosanya melebihi makan daging babi" dibandingkan dengan "bunganya hanya 0.1%" ?
Belum kita bahas mengapa istilah riba diperindah dengan sebutan bunga.. Ini ada istilahnya namun penulis lupa.
Sesungguhnya jangkrik masih ada manfaatnya..
Tetapi bila jangkrik ini terdiagnosis cara berpikir penguasa hari ini, yang diistilahkan dengan "Dungu" oleh salah seorang pengamat politik bernama Rocky Gerung. Maka sebagai intelektual kita perlu mempertajam pisau analisis kita dan mengubah ruang publik yang tadinya penuh doktrin dan "ajaran berbahaya" menjadi generasi yang mapan dalam konsep dan literasinya.
Sekarang periksa ke dalam diri Anda!
Seberapa banyak Anda mengkonsumsi quote-quote yang menggugah sikap produktif..
Seberapa banyak Anda kemakan korban iklan, lantas menjadi konsumtif dan hedonis..
Seberapa banyak Anda menginput "ajaran" yang sekedar membuat diri Anda menjadi hura-hura dan foya-foya?
Selama umur anda ini apa saja informasi, tontonan yang jadi tuntunan, buku bacaan yang mempengaruhi cara pandang dan cara Anda bersikap?
Keep reading and sharing your arguement!
Komentar