Saya melihat sebuah potongan video. Pada video itu presiden indonesia 2020 berbicara perihal dana yang dimiliki Indonesia. Menurut saya bombastis sekali hingga 11 T.
Dengan dana sebanyak itu, harusnya negara siap menghadapi pandemi covid 19 dengan segala resikonya. Secara cepat tanggap menerapkan sistem lockdown.
Apakah sudah diterapkan tes Corona kepada warga yang mungkin terpapar atau bersinggungan langsung dengan pasien positif covid 19? Sebanyak mungkin? Seperti yang dilakukan oleh korsel yaitu pemeriksaan covid 19 kepada 19.000 warganya.
Sebab presiden kita menyebutkan loh dana yang dimiliki Indonesia sekarang sebanyak 11 T. Kalau sudah kabari saya yaaa.
Bukan malah menyepelekan pandemi ini. Sebagaimana yang kita lihat di media-media, ada beberapa pejabat publik yang mengeluarkan statement remeh diawal pandemi ini. Katanya sih strategi untuk tetap membuat masyarakat tenang dan tidak panik. Katanya juga untuk menghindari resiko lain yang lebih besar lagi seperti panic buying dan penjarahan yang mungkin saja dapat terjadi akibat situasi semacam ini. Kebohongan publik eh bukan, mengatur kebenaran lebih tepatnya dengan menyembunyikan fakta. Ini, sah-sah saja dalam politik.. wew
Nyatanya negara Indonesia melalui titah dari presidennya melakukan sosialisasi social distancing. Social distancing sebenarnya adalah bentuk lockdown bertahap yg mana resikonya diserahkan pada masing-masing individu atas pilihan masing-masing. Negara mikir keras nih untuk melockdown Indonesia karena resikonya negara harus mengerahkan banyak daya, upaya juga dana dalam militer, logistik dll. Sebagaimana yang diatur oleh UU. Melihat fakta ini. Artinya pemerintah memilih untuk melakukan peran yang sangat minim, hanya pada sosialisasi preventif pada masyarakat Indonesia yang berjuta-juta jiwa.
Pertanyaannya, Kenapa peran negara amat sangat minim dalam hal ini, padahal bila memang punya banyak dana negara bisa lebih proaktif. Hanya ada dua kemungkinan, pertama dana sebanyak itu hoax belaka, nyatanya gak siap bro n sis.. lah masak negara menyebarkan hoax gak mungkin lah. Kemungkinan keduanya adalah hal itu terjadi karena karakteristik dari sistem kapitalisme yang mengakar kuat di Indonesia.
Prioritas dari sistem kapitalisme atas segala kebijakan negara bertumpu pada asas manfaat semata, sekelompok kapital atau dalam hal ini sekelompok orang yang punya kuasa dan andil didalamnya. Prinsip bisnis dan ekonomi tetap melekat ditengah pandemi yang mengkhawatirkan. Dengan hanya menerapkan peran preventif saja, kerugian ekonomi sudah dirasakan pelan namun pasti. Apalagi bila cepat tanggap dan tuntas. Gak bakal kuat bro!
Dengan asas manfaat, peran pemerintah minim. Dana sebanyak 11 T bisa menghidupi anak cucu hingga 7 turunan atau melanggengkan korupsi secara sistematis dengan berbagai UU yang dimuluskan yang berorientasi pada para kapitalis pemilik modal. Kalau ingin percaya teori konspirasi dari pandemi yang mana untuk mengurangi penduduk berarti mengurangi beban negara juga dong yakan.
Rakyat Indonesia yang dermawan ini, akhirnya suka rela untuk urunan dana membantu mereka agar tetap survive diantara kemiskinan dan pandemi yang melanda. Lalu untuk apa kita punya pemimpin? Gak guna dong?
Ya guna lahh untuk apalagi selain untuk terus melanggengkan sistem kapitalisme di Indonesia dengan segala dampak negatif yang ditimbulkan dari diterapkan nya sistem ini.
Lalu bagaimana solusi tuntas tanpa tambal sulam? Bukankah kita ini negara yang menganut pancasila, harusnya tidak seperti ini dong?
Dan pertanyaan lainnya, silahkan tanya dikolom komentar akan kita diskusikan bersama di postingan selanjutnya. Bye bye. Stay positif n health yo yaaa...
Komentar