Pada tulisan sebelumnya Saya memaparkan masalah terkait Corona dan peran pemerintah yang dinilai lamban dalam menghadapi hal ini. Sebenarnya masih banyak masalah-masalah baru yang akan terus berdatangan karena wabah covid 19. Salah satu yang akan berdampak luas karena sekedar melakukan himbauan social distancing sebagai solusi, yang berdampak terjadi dalam sektor ekonomi. Kita ketahui bersama dolar sudah menyentuh angka 16k ditengah gempuran wabah, ditambah lagi serangan virus demam berdarah.. belum lagi sikap abai kita sebagai individu terhadap potensi masalah yang akan mengganggu eksistensi kita. ambyaarlahhh seantero negeri karena ini. Belum lagi permasalahan pendidikan yang berjalannya kurang efektif melalui e-learning. Lebih ambyaarlahhh lagi, kita yang harusnya sidang skripsi terhambat dalam rangka mencegah kurva pasien positif meningkat. Jadi curhat. Iya benar-benar ambyaarlahhh kita karena ketidaksiapan, kelalaian dan senantiasa berangan-angan 'ah tidak mungkin covid 19 masuk ke Indonesia, orang Indonesia ini kuat-kuat tahan banting. Corona korupsi dari dulu kita sudah susah. Corona tidak adanya lapangan kerja, dari dulu juga kerja serabutan. Corona masuknya TKA warga negara sendiri dianak tirikan. Dan masih banyak corona-corona lain yang terjadi .. sebab sistem kapitalisme yang sudah mendarah daging di jantung Pancasila.
Kita jadi tidak bisa sebut Pancasila ideologi negara kita. Lazimnya sebuah ideologi ia punya metode untuk menerapkan apa yang menjadi landasan, dasar, rujukan, nilai-nilainya. Nah, Pancasila tidak memandu kita dalam penerapan nya. Kita berpanduan pada demokrasi, berdasarkan musyawarah mufakat atau voting yang dilakukan pejabat negara yang konon katanya acapkali ketiduran saat sidang rapat. Mereka menuju puncak dan pucuk kekuasaan dengan berbagai cara bisa jadi kebanyakan di sebut tipu muslihat. Ada yang benar -benar negarawan tetapi suaranya tidak lebih hanya 5-10% saja. Bagaimana dapat memutuskan perkara yang merakyat. Biasanya mereka dapat naik kepuncak kekuasaan menjadi penguasa karena dukungan dana dari pihak lain bernama perusahaan ataupun pemilik modal. Persahabatan antara penguasa dan pengusaha melahirkan sistem korporatokrasi yang merugikan kita yang hanya berstatus orang pinggiran. Barangkali ada juga yang memang sudah jiwanya jiwa pebisnis, memanfaatkan berbagai kesempatan untuk lebih memudahkannya dalam berbisnis. Jadilah Ia negarawan karbitan. Salah satu yang teringat adalah video dokumenter dari watch doc tentang tambang batu bara.
Ini bukan hanya tentang manusianya melainkan sesuatu yang luput dari pandangan mata telanjang kita. Sesuatu yang berada dalam isi kepala. Pandangan hidup ataupun ideologi yang diemban pada masing-masing kepala kita. Arus utamanya, kita lahir, bertumbuh, berkembang dan besar di kondisi yang tidak ideal cenderung rusak. Iya, kapitalisme dan induknya yaitu sekulerisme.
Sangat panjang bila ditanya dan dikaji dimana rusaknya paham ini?
Sederhana saja, bahwa setiap yang ada di dunia ini pasti diadakan oleh yang mengadakan. Yang ada itu disebut ciptaan sedangkan yang mengadakan disebut pencipta. Cukup hanya disitu? Ternyata smartphone kita ada berkat luar biasa dari kecerdasan akal manusia sebagai pencipta smartphone. Tidak hanya menciptakan smartphone, pihak yang memproduksi smartphone amat sangat mengetahui karakteristik dari apa yang diciptakan, kelebihan serta kekurangan, keterbatasan masa pakai dan berbagai panduan mengenai pengoperasian hal-hal tersebut. Masalahnya dimana? Sekulerisme dan kapitalisme lahir dan dibesarkan serta dirawat dengan baik dari ketidakadilan masa renaisans. Masa dimana mereka (cendekiawan dan gerejawan) memutuskan untuk memisahkan aturan agama dari kehidupan bernegara. Menjadi bencana apabila ini juga yang kita lakukan pada agama kita. Padahal agama kita bukan sekedar agama melainkan sebuah ideologi yang komprehensif mengatur urusan manusia dari bangun tidur hingga bangun negara.
"Siapa saja diantara kalian yang bangun pagi dalam keadaan diri dan keluarganya aman, fisiknya sehat dan mempunyai makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia mendapat kan dunia (HR At-Tirmidzi)
Islam menetapkan keamanan, pendidikan dan kesehatan sebagai hak dasar seluruh masyarakat. Untuk itu, ketentuan Islam dalam bernegara, negara wajib menjamin pemenuhan sandang, pangan, dan papan. Tidak hanya itu, masalah keamanan, kesehatan dan pendidikan pun demikian. Penguasa haram hukumnya abai terhadap pemenuhan kewajiban itu. Tanggung jawabnya bukan hanya terhadap seribu juta rakyat Indonesia, tetapi terhadap Allah yang mendengarkan setiap rutukan do'a dari berjuta-juta rakyat yang ditelantarkan kebutuhan hidup dan keamanannya.
Selain itu, penjaga kesehatan masyarakat juga dimulai dari individu dan keluarga.
Pertama, makanan yang thayyib dan halal.
Kedua, nafkah yang halal.
Ketiga, pengelolaan lingkungan yang sehat, bersih dan asri .
Keempat, amar makruf nahi mungkar dalam bermasyarakat.
Dari segi negara dalam menjamin kesehatan kepada rakyatnya dibuktikan dengan adanya konsep jaminan kesehatan Khilafah yang terpancar dari sumber yang jernih yaitu Al-Qur'an dan as-sunah.
Pertama, pelayanan dasar kesehatan termasuk pelayanan dasar publik. Hal ini ditunjukkan oleh perbuatan Rasulullah Saw, yaitu ketika beliau dihadiahi seorang dokter, dokter tersebut bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan kaum muslim.
Kedua, Negara bertanggung jawab penuh terhadap berbagai fasilitas baik fisik maupun non fisik yang mana tidak pandang buluh.
Ketiga, pembiayaan berkelanjutan yang sesungguhnya. Model pembiayaan kesehatan sebagai pos pengeluaran pada Baitul Mal (Kas Negara) dan bersifat mutlak.
Keempat, kendali mutu jaminan kesehatan Khilafah berpedoman pada tiga strategi utama : administrasi yang Simple, segera dalam pelaksanaan, dan dilaksanakan oleh personal yang kapabel. Rasulullah Saw bersabda "Sungguh Allah SWT telah mewajibkan berbuat Ihsan atas segala sesuatu. " (HR. Muslim)
Nah pertanyaannya, sekarang bagaimana menuju pada sistem yang paripurna sejagad itu?
Komentar