Belajar sosiologi mengenai perubahan sosial. Salah satu bentuknya perubahan besar, contohnya yang terjadi karena perubahan pada sistem politik dimana berdampak pada perubahan sosial masyarakat, adanya kesenjangan sosial dan mungkin gesekan konflik serta disintegrasi sosial yang sering jadi dampak dari perubahan besar sistem politik.
Dampak ini jadi momok menakutkan yang menghantui pikiran. Selain itu, secara tidak langsung membuat kita 'terpaksa nyaman' dengan kedzaliman. Yasudahlah begini adanya. Masalahnya, Salah satunya karena siapa orangnya, lainnya karena apa yang diemban.
Kita ganti topik bicara, Palestina, Suriah dan negeri-negeri muslim lain yang dibantai habis-habisan. Adakah dari negeri-negeri "konflik" tersebut begitu karena perubahan sistem politik? Apakah sistem politik tertentu membuat mereka jadi berkonflik? Atau justru sistem politik yang masih berkuasa yang berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan apapun caranya? Termasuk membantai yang lemah. Sebab hakikatnya, apapun ideologinya punya metode untuk mempertahankan Idenya tetap pada eksistensi. Tinggal bagaimana kita menilai rupa apa yang dibawa, ketegasan atau kediktatoran. Kekuatan atau kebengisan.
Tak perlu bicara kebebasan apapun bentuknya pada mereka, mereka anggap itu lelucon garing yang terus diperdengarkan. Hanya orang bodoh yang tertawa sembari tetap dibodoh-bodohi. Cukuplah, diatas teori dan fakta ada standar ganda yang melanggengkan penderita bagi kita yang bodoh ataupun bagi mereka korban 'ide kebebasan' yang tersandera.
Jadi teringat, ketika sahabat Rasulullah telah dan terus berdakwah di Madinah. Tiba masanya, agama ini perlu kekuasaan sebagai pelindung. Rasulullah datang kepada suatu kaum. Kaum tersebut menolak beliau. Sampailah pada, Auz dan Khazraj yang berhasil didamaikan. Ketika suatu kaum menerima beliau, membaiat beliau menjadi pemimpin ditengah-tengah mereka. Mempersaudarakan antara Anshar dan Muhajirin. Hingga sampai saat ini, sampai pelosok daerah dapat menerima indah hidayah Islam Semata-mata. Bukan hanya karena siapa orang-orang nya tetapi juga karena apa yang membentuk mereka, apa yang diemban oleh mereka. Tidak lain, karena risalah mulia yang komprehensif tak pernah lapuk dimakan zaman.
Akhirnya.
Mana yang lebih mengerikan?
Membiarkan diri terus pada ketakutan yang belum tentu terwujud. Sembari menonton episode demi episode, pembantaian besar-besaran, eksploitasi sumber daya alam, wanita, dan anak-anak serta kejahatan kemanusiaan lain ?
Komentar